Andi Arief: Mudah-mudahan Pak Moeldoko Memahami Gagalnya Kudeta Keblinger dan Bertobat

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Polemik kudeta melalui KLB Demokrat di Deli Serdang, Sumut, membuat dua kubu partai saling membuat serangan terhadap satu sama lain. Bahkan terkini, AHY menunjuk mantan Wakil Ketua KPK Bambang Widjojanto sebagai kuasa hukum dan mendaftarkan gugatan di PN Jakarta Pusat.

Terlepas dari itu semua, Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief memberikan penjelasan runut terkait Kongres Demokrat tahun 2020. Menurut dia, kongres itu tidak didesain untuk mengaklamasikan Agus Harimurti Yudhoyono ((AHY) sebagai ketua umum partai.

Muat Lebih

Dalam serangkaian cuitanya di Twitter seperti dilihat Jumat (12/3/2021) ini, Andi Arief pun membeberkan kronologi kongres tersebut. Menurut dia, menjelang Kongres Demokrat tahun 2020, Ketua Majelis Tinggi Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mendapat tiga aspirasi terkait caketum, yakni meminta agar mencalonkan kembali SBY, mengikuti arahan SBY, dan mencalonkan AHY. Saat itu, dikatakannya, AHY mendapat 95 persen suara dari DPD dan DPC.

“Jelang Kongres 2020, SBY Ketua Majelis Tinggi dapat aspirasi tertulis dari semua ketua DPD/DPC. Ada tiga aspirasi, calonkan kembali SBY, ikut arahan SBY, mencalonkan AHY. Kongres Tidak didisain aklamasi, dibuka bagi kader ingin calonkan diri. Saat pendaftaran, AHY didukung 95 persen DPD/DPC,” cuit Andi Arief melalui Twitternya, @AndiArief_ID.

Menurutnya, AHY saat itu merupakan calon tunggal Ketum Demokrat. AHY, yang didukung oleh 95 persen suara dan merupakan calon tunggal ketum, langsung terpilih secara aklamasi.

“Karena hanya AHY yang mendaftar saat kongres dan angka dukungan menurut tatib aklamasi, dalam tatib bisa mencalonkan diri 25 persen, maka seluruh peserta kongres mendukung AHY secara aklamasi. Sedangkan jabatan Ketua Majelis Tinggi tetap SBY karena amanat Kongres 2015 Surabaya,” ucapnya.

Kemudian, Andi Arief mengatakan AHY mulai masuk ke Partai Demokrat sejak 2016 menjelang Pilkada DKI Jakarta. Menurut dia, AHY sempat diuji sebelum menjabat menjadi Ketum Demokrat.

“AHY masuk daftar ke Demokrat tahun 2016 saat Pilkada DKI. Karena Ibu Ani sakit dan AHY harus menjaga, Partai menugaskan kepadanya sekaligus menguji dalam tugas pemenangan Pilkada 2018 dan Kogasma saat Pileg 2019. Diuji dulu sebagai kader, tidak ujug-ujug. Ini beda dengan Pak Moeldoko,” ujarnya.

Andi Arief juga mengatakan AHY turun ke banyak daerah sebelum Pileg 2019. Ia mengatakan, menjelang Pileg 2019, Demokrat pun mendapat suara 7,8 persen. Ia pun memberikan sindiran kepada Kubu KLB Demokrat.

“Meski sulit, Pileg 2019 Demokrat dapat 7,8 persen. AHY turun ke banyak dapil pemilihan naikkan suara sebelum pileg semua lembaga survei sebut elektabilitas Demokrat kisaran 4-5%. Darmijal, Pak @marzukialie_MA apalagi Moeldoko tak pernah mau tahu situasi partai saat itu,” ujarnya.

AHY kemudian mulai masuk ke jajaran pengurus partai sebagai waketum pada 2019. Ia menggantikan kader yang mengundurkan diri sebagai ketum saat itu.

“Setelah Pileg 2019, AHY dalam perubahan susunan pengurus menjadi waketum partai, Mengisi kekosongan jabatan wakil ketua umum karena mengundurkan diri. Susunan pengurus baru itu disetujui juga dengan SK Menteri Kumham. Jadi AHY beda lagi dengan Moeldoko, yang tak berkeringat di Demokrat,” ujarnya.

Selain itu, Andi Arief mengatakan perubahan AD/ART dirancang usai melalui diskusi yang panjang. Perubahan itu juga disesuaikan dengan dinamika politik.

“Perubahan AD/ART setiap kongres disesuaikan dinamika organisasi, dinamika politik hasil diskusi yang panjang dan ilmiah. Bahkan untuk mencari ketum yang bisa mengangkat suara partai dihitung matang sebagai strategi. Sejak SBY tidak jabat presiden, Marzuki Alie, Darmizal, dan kawan-kawan menghilang,” ujarnya.

Andi Arief pun menyindir KLB Demokrat Deli Serdang. Ia berharap Moeldoko segera bertobat. “Mudah-mudahan Pak Moeldoko memahami gagalnya kudeta keblinger dan bertobat. Partai Demokrat bukan partai yang pragmatis akibat perbuatan beberapa kader. Jhoni Alen dan Nazaruddin serta Marzuki Alie memang pernah sukses gunakan pragmatisme dalam Kongres 2010. Sekarang zaman sudah beda,” tuturnya. [ind]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *