Baznas Nyatakan Bayar Zakat Secara Digital Tetap Sah

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Umat muslim selain diwajibkan untuk berpuasa, salah satu ibadah yang dilakukan dalam bulan Ramadhan adalah menunaikan zakat. Seiring dengan perkembangan zaman, cara berzakat pun semakin mudah dan modern. Zakat, kini dapat ditunaikan secara cashless melalui lembaga perbankan.

Pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Rizaludin Kurniawan menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir bila ingin berzakat secara praktis tanpa tatap muka lewat kanal digital karena hukumnya tetap sah.

Muat Lebih

Ia menjelaskan zakat adalah kewajiban untuk semua umat muslim yang punya kemampuan, harus berasal dari harta yang halal dan memiliki ukuran tertentu serta waktu tertentu.

“Sementara dari cara membayarnya bisa lewat apa saja dan media apa saja, termasuk media elektronik digital. Boleh langsung ke amil zakat, transfer, atau kanal digital dan uang elektronik,” kata Rizaludin dilansir Antara, Kamis, (22/4/2021).

Untuk masyarakat yang ingin membayar zakat lewat kanal digital, dia menyarankan untuk mencari lembaga resmi yang telah mendapatkan izin dan memiliki regulasi yang jelas.

Cari juga lembaga yang punya fitur-fitur di mana pengguna dapat memilih ingin membayar zakat, infak atau sedekah agar uang yang disalurkan tidak tercampur. Lalu, pastikan lembaga tersebut memberikan notifikasi pemberitahuan bahwa zakat sudah diterima.

“Kanal untuk membayar zakat bisa bermacam-macam karena islam itu mudah dan memudahkan,” katanya.

Potensi zakat, infak dan sedekah di Indonesia diperkirakan mencapai Rp300 triliun.

Dibandingkan zakat konvensional, porsi masyarakat yang membayar zakat secara digital hampir mencapai angka 25 persen. Saat ini, salah satu kendalanya adalah sosialisasi agar masyarakat semakin mengenal alternatif pembayaran lain yang lebih praktis lewat digital.

“Masih ada anggapan zakat harus dilakukan secara konvensional, padahal itu bukan syarat sah,” katanya.

Zakat dianggap sah bila sudah ada niat berzakat dan adanya perpindahan harta ke mustahik (penerima zakat) melalui amil yang mengumpulkan dan mendistribusikan zakat. Selama orang sudah berniat dan dananya telah dipindahkan lewat amil, maka zakat sudah sah.

Pada akhir 2021, Baznas menargetkan untuk mengumpulkan zakat, infak dan sedekah Rp503 miliar, dengan target 30 persen berasal dari transaksi digital. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *