Gawat, Air Radioaktif Bekas Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Tak Tertampung

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Jepang kembali mewacanakan untuk membuang air radioaktif bekas pembangkit tenaga nuklir Fukushima ke laut, mengingat penampungannya sudah hampir penuh. Namun, wacana tersebut mendapatkan penolakan dari warga setempat, yang khawatir dampaknya terhadap kesehatan dan hasil tangkapan ikan nelayan.

Kementerian Perindustrian Jepang pada Jumat (31/1/2020) merekomendasikan untuk melepaskan air radioaktif yang diolah dari pembangkit nuklir Fukushima yang rusak ke lautan. Pemerintah telah mencari cara untuk membuang lebih dari 1 juta ton air yang digunakan untuk mendinginkan inti bangunan reactor yang rusak parah akibat ledakan hidrogen yang dipicu gempa bumi dan tsunami pada 2011 silam.

Muat Lebih

Meski mendapat penolakan keras dari warga, pemerintah tetap condong pada keputusan membuang air ke Samudra Pasifik, atau merebusnya dan melepaskan atmosfer uapnya. “Keduanya adalah opsi realistis,” kata Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri setempat melansir mainichi, sembari mengatakan, melepaskan air ke laut akan membuatnya lebih mudah untuk dipantau tingkat radiasinya.

Menurut keterangan kementerian tersebut, metode ini dapat dilakukan dengan lebih pasti, karena operator pabrik, Tokyo Electric Power Company Holdings Inc., memiliki pengalaman di dalamnya, meskipun dalam skala yang jauh lebih kecil.

Kementerian mengatakan efek kesehatan dari kedua opsi ini sangat minimal. Kedua opsi ini diperkirakan menghasilkan antara 0,052 dan 0,62 microsievert setiap tahun untuk pembuangan ke laut dan 1,3 microsieverts jika dilepaskan ke atmosfer. Itu sebanding dengan 2.100 microsieverts yang terpapar setiap hari.

Metode lain yang dipertimbangkan oleh subkomite termasuk menyuntikkan air jauh ke dalam tanah, memadatkan dan menguburnya, dan mengekstraksi hanya hidrogen dan melepaskannya ke atmosfer.

Diketahui, jumlah air radioaktif bekas tenaga nuklir itu meningkat sekitar 150 ton per hari dan TEPCO, kehabisan tangki untuk menyimpannya. Mereka juga sedang mencari cara untuk meningkatkan kapasitas penampungan menjadi 1,37 juta ton per hari pada akhir tahun 2020 ini.[asa]

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *