Ibu dan Anak Ditetapkan sebagai Tersangka Kasus Penipuan Terhadap Putri Raja Arab Saudi

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Direktorat tindak pidana umum (Dirtipidum) Bareskrim polri menetapkan dua orang tersangka kasus penipuan terhadap Putri Arab Saudi, Lolowah binti Mohammed bin Abdullah Al-Saud bernilai Rp505 miliar. Satu orang diantaranya masih menjadi buronan polisi.

Kasubdit II Dittipidum Mabes Polri, Kombes Pol Endar Priantoro mengatakan kedua tersangka itu bernama EMC alias Evie dan EAH alias Eka. Mereka memiliki hubungan darah anak dan orang tua. Status EMC kini masih menjadi buronan polisi.

Muat Lebih

“EMC itu adalah ibunya. Yang dimana si ibu itu penerima semua uang dari korban,” kata Endar di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Kamis (30/1/2020).

Saat dilakukan penyelidikan, kata Endar mereka berdua tidak kooperatif alias tidak pernah memenuhi panggilan pemeriksaan kepolisian. “Dipanggil enggak datang. Setelah penyidikan dipanggil lagi enggak datang. Tidak ada respon. Sampai kita titipkan (surat pemanggilan) ke tetangga,” tambahnya.

Salanjutnya, setelah dilakukan pencarian Penyidik Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri akhirnya berhasil mengendus keberadaan satu tersangka EAH. EAH ditangkap di sebuah hotel di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu, (29/1/2020).

“Tersangka berpindah-pindah lokasinya, makanya kita agak kesulitan dan lama ditemukan,” jelasnya.

Saat penangkapan tersebut, EAH tak bersama dengan ibunya, EMC. Kini penyidik masih terus mengejar EMC yang tengah menjadi buronan.

Dari tangan pelaku polisi mengamankan sejumlah barang bukti diantaranya 7 legasir HJP atas nama 2 tersangka dengan posisi tanah di Bali, rek koran kedua tersangka, 1 bundel bank arab saudi, beberapa transkip pembicaraan tersangka dan korban terkait transaksi pengiriman uang dan pemb villa.

“Mobil Alphard dan Jaguar sementara itu untuk lain kita proses aliran dana kami masih on progres kita smpaikan nanti ke rekan-rekan,” jelasnya.

Kasus tersebut bermula ketika kuasa hukum Lolowah melaporkan EMC dan EAH pada Mei 2019 setelah Lolowah mengirim uang Rp505,5 miliar sejak 27 April 2011 hingga 16 September 2018.

Sejumlah uang tersebut dijanjikan untuk membeli tanah dan membangun Vila Kama dan Amrita Tedja di Desa Pejeng Kawan, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali. Namun, pembangunan vila tidak kunjung rampung hingga 2018.

Lolowah curiga sehingga meminta Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Ni Made Tjandra Kasih menghitung nilai pembangunan vila. Nilai bangunan yang rampung tidak sesuai dengan yang dijanjikan.

Lolowah mengaku sempat dijanjikan kepemilikan tanah dan vila tersebut menjadi milik PT Eastern Kayan. Namun, hingga kini kepemilikan tanah dan vila masih atas nama EMC dan EAH.

Pelaku kembali menawarkan tanah seluas 1.600 meter persegi di Jalan Pantai Berawa, Desa Tibubeneng, Kuta Utara, Badung, Bali kepada Lolowah.

Korban lalu mengirimkan sejumlah uang USD500 ribu (Rp6,8 miliar) kepada tersangka. Setelah dikonfirmasi, tanah tersebut tidak pernah dijual oleh pemiliknya.

Atas perbuatannya itu, para pelaku dikenakan Pasal 378 KUHP dan/atau Pasal 372 KUHP dan/atau Pasal 3 dan Pasal 4 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *