Kemenag dan DPR Sepakat Biaya Haji Tahun Ini tidak Naik

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Komisi VIII DPR dan Menteri Agama menyepakati bahwa Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2020 tidak mengalami kenaikan. BPIH tahun ini sama dengan tahun 2019, yaitu sebesar Rp 35.235.602 atau 2.563 dolar Amerika.

Besaran biaya itu juga diketahui tidak berubah dari biaya haji tahun 2018. Adapun pembahasan mengenai BPIH tahun ini telah dibahas sejak November 2019.

Muat Lebih

“Menyepakati besaran rata-rata biaya perjalan ibadah haji atau biaya yang dibayar langsung oleh jamaah pada BPIH 1441 Hijriah adalah rata-rata Rp35.235.602,” kata Ketua Panitia Kerja BPIH Komisi VIII Marwan Dasopang dalam rapat yang di Komisi VIII bersama Kemenag, Kamis (30/1).

Marwan menambahkan, nilai itu ditentukan setelah Kemenag dan DPR menetapkan kurs US$1 setara dengan Rp13.750 dan SAR1 (riyal) setara dengan Rp3.666,67.

Marwan merinci, besaran BPIH tersebut di antaranya terdiri atas uang saku jamaah atau living cost sebesar SAR1.500 atau setara Rp5.500.005. Besaran itu tidak berubah dari tahun sebelumnya.

Namun demikian, perubahan biaya terjadi pada pos biaya penerbangan pulang pergi. Tahun ini, jemaah hanya perlu membayar Rp28,6 juta untuk penerbangan. Angka itu turun dari tahun 2019 yang sebesar Rp30.079.285.

Kemudian tahun ini jamaah diminta membayar SAR300 atau setara Rp1.100.001 untuk visa Arab Saudi. Biaya itu berdasarkan kebijakan Kerajaan Arab Saudi mengganti visa progresif dengan visa haji.

Marwan menekankan total biaya haji per jamaah adalah Rp69.174.167,97. Namun jamaah hanya membayarkan 51 persen, sedangkan sisanya menggunakan tabungan haji jamaah yang belum berangkat atau dana nilai manfaat.

Kepala Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Anggito Abimanyu bersyukur bahwa Komisi VIII DPR bersama Menteri Agama Fachrul Razi telah menyepakati Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2020 tidak ada kenaikan dibanding tahun 2019.

“Alhamdulilah bisa dilihat sendiri. Secara umum, biaya haji kan turun karena kursnya menguat, karena harga minyak juga turun. Jadi sebetulnya efisiensi bisa dilakukan. Ini karena rezeki dari Allah. Namanya kita tidak menyangka tiba-tiba kurs menguat,” ucap Anggito ditemui di sela-sela rapat tersebut.

BPIH yang baru disepakati ini tetap dengan menggunakan asumsi jumlah jemaah haji sebanyak 231.000 orang.

“Jadi subsidinya lebih kecil daripada biaya sendiri. Ini bukan sesuatu yang dipaksanakan, memang biayanya turun, karena kursnya menguat. Tahun lalu Rp14.200, sekarang kan Rp13.750,” jelasnya.

Anggito yang juga mantan dirjen di Kementerian Agama ini menyebutkan, menguatnya kurs rupiah membuat biaya-biaya yang dihitung dalam Saudi Arabia Riyal (SAR), maupun dollar AS ikut turun. Selain itu, penurunan harga avtur juga menekan biaya penerbangan. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *