Kuota BBM Bersubsidi Jebol, Pertamina Didesak Digitalisasi di SPBU

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM –  PT Pertamina (Persero) didesak Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH MIGAS) untuk segera memberlakukan digitalisasi pipa pengisian (nozzle) pada Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di seluruh Indonesia.

Menurut Kepala BPH Migas Fanshurullah Asa, program tersebut untuk meningkatkan pengawasan BBM bersubsidi (minyak solar) dan BBM penugasan (premium) agar tepat sasaran dan BBM satu harga terjamin ketersediaannya.

Muat Lebih

“Kami mohon Dirut Pertamina untuk bisa mengakselerasi. Kalau bisa Juni 2020 semua SPBU menggunakan nozzle. Dan mencatat semua nomor polisi yang melakukan menggunakan BBM subsidi,” tutur Fanshurullah di Jakarta, Senin (30/12/2019).

Lebih lanjut, ia menjelaskan, hingga 23 Desember 2019, realisasi penyaluran solar bersubsidi tercatat sudah jebol dan melebihi kuota yang ditetapkan 14,5 juta kilo liter (KL). Over kuota itu diduga lantaran penyaluran BBM tak tepat sasaran dan banyak dinikmati oleh warga mampu.

“Kelebihannya 1,23 juta kilo liter. Kalau mengacu ke APBN, maka yang perlu ditambal pemeirntah untuk tambahan solar bersubsidi mencapai Rp3 triliun,” ucapnya.

Ditempat yang sama, Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, pihaknya terus berusaha untuk menyelesaikan digitalisasi di SPBU. Ia menargetkan digitalisasi tersebut akan selesai pada triwulan 2020.

“Kemudian kita juga akan mendorong cashless payment untuk seluruh transaksi di SPBU. Jadi kita sudah koordinasi dengan seluruh perbankan untuk sama-sama menssuport seluruh SPBU kita dorong untuk cashless payment. Jadi itu program kita.” Ujar Nicke.

Selain itu, Pertamina juga membuka call center 135 agar masyarakat melaporkan BBM yang tidak tepat sasaran ke Pertamina. Di samping itu, Pertamina juga bakal mendorong transaksi menggunakan sistem cashless atau non-tunai.

Pertamina tak menampik adanya jebol kuota BBM bersubsidi karena masih ada pengguna yang sebenarnya mampu membeli solar yang tidak bersubsidi namun tetap mengkonsumsi solar subsidi. Ia berharap dengan proyek digitalisasi nozel ini bisa meminimalisir hal ini. [rif]

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *