Menteri Agus Gumiwang Tekankan Pentingnya Peranan Industri Bengkel Pesawat

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, industri perawatan dan perbaikan pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) memiliki peranan penting bagi industri penerbangan. Sebab, mampu menekan pengeluaran, salah satunya biaya impor komponen pesawat.

“Selain itu, bisnis industri MRO cukup menjanjikan, seiring meningkatnya sektor pariwisata dan perekonomian di Tanah Air. Bahkan, didukung pula dengan maraknya pembangunan bandara di berbagai wilayah di Indonesia,” katanya dalam keterangannya, Jumat (27/12/2019).

Muat Lebih

Kemenperin memproyeksi, potensi bisnis industri perawatan dan perbaikan pesawat di Indonesia pada tahun 2025 akan mencapai USD2,2 miliar, naik signifikan dibanding tahun 2016 sebesar USD970 juta.

Hal ini seiring upaya pemerintah yang memacu pengembangan industri jasa penerbangan dalam negeri sejak tahun 2000 sehingga kinerjanya tumbuh dalam satu dekade terakhir. “Dalam upaya memacu daya saingnya, industri MRO sendiri sudah diberikan berbagai fasilitas insentif fiskal seperti tax holiday dan pembebasan bea masuk,” tutur Agus.

Saat ini, industri MRO di Indonesia, diperkuat sekitar 32 perusahaan yang tergabung dalam Indonesia Aircraft Maintenance Service Association (IAMSA).

Untuk itu, Kemenperin bersama seluruh pemangku kepentingan terkait terus berkolaborasi guna lebih meningkatkan daya saing industri MRO nasional. Salah satu langkah strategisnya, yaitu pengembangan sumber daya manusia industrinya.

Upaya konkret itu misalnya, Kemenperin dan IAMSA akan bersinergi dalam pembangunan unit pendidikan atau penyediaan tenaga pengajar ahli di bidang perawatan pesawat. Selanjutnya, dilakukan kerja sama dengan industri yang akan menampung para lulusan tersebut agar mereka dapat langsung terserap kerja.

Kemenperin mencatat, Indonesia akan menyerap sebanyak 12-15 ribu tenaga ahli MRO dalam kurun 15 tahun ke depan. Sementara itu, sekolah-sekolah teknisi penerbangan yang ada di Indonesia saat ini baru menghasilkan 200 tenaga ahli per tahun, sedangkan kebutuhannya mencapai 1.000 orang per tahun.[asa]

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *