Pagi Ini Kapal Cina Masih Terpantau di ZEE Indonesia, Yuk Kenali ZEE dan Nine Dash Line yang Bikin Situasi Natuna Memanas

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM Tensi hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Tiongkok dalam beberapa hari terakhir memanas lantaran sejumlah kapal Tiongkok masih bertahan di Perairan Natuna.

Dari pantauan yang diterima Indopolitika.com hari ini, Selasa (7/1/2020), Pada pukul 07.45 WITA, terpantau adanya 8 Kapal Negara Tiongkok ditapal batas Nine-Dash Line mereka yang masuk ke dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia dengan jarak hanya 102nm dari Pulau Natuna.

Muat Lebih

Sebelumnya, pihak Cina bersikukuh mereka melakukan penangkapan ikan di wilayah yang mereka sebut Nine-Dash Line. Sementara Indonesia menyatakan warga dan Penjaga Pantai (Cost Guard) Negeri Tirai Bambu dianggap sudah melampaui wilayah kedaulatan Indonesia di Perairan Kepulauan Natuna di Kepulauan Riau.

“Sembilan Garis Putus-putus” atau Nine-Dash Line kembali menjadi akar permasalahan yang kembali memantik protes Indonesia terhadap Cina.

Indonesia juga menegaskan tidak mengakui Nine-Dash Line yang kerap menjadi pembenaran Cina untuk mengklaim sebuah kepulauan di Laut Cina Selatan, sehingga Indonesia menamai daerah laut Kabupaten Natuna itu sebagai Laut Natuna Utara.

Tidak hanya Indonesia, Cina juga berkonflik dengan Taiwan, Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Brunei Darussalam di beberapa wilayah lain di Laut Cina Selatan, yang hanya satu dari sekian daerah laut di mana Cina berselisih dengan beberapa negara, selain dari Laut Timur Cina.

Actual Monitoring Time, 7 Januari 2020, pk 07.45 WITA

Nine-Dash Line adalah wilayah historis Laut Cina Selatan seluas 2 juta km persegi yang 90% darinya diklaim Cina sebagai hak maritim historisnya, meskipun berjarak hingga 2.000 km dari Cina daratan.

Garis putus-putus itu pertama kali muncul di peta negara Cina pada 1947, setelah usainya Perang Dunia II. Kala itu, Angkatan Laut Republik Cina menguasai beberapa pulau di Laut Cina Selatan yang sebelumnya dikuasai Jepang dalam perang dan dibatasi -atau lebih tepatnya dihubungkan- dengan 11 garis putus-putus.

Setelah Republik Cina yang dikomando Partai Kuomintang kalah dalam persaingan di Cina daratan dan kemudian hijrah ke Kepulauan Formosa (Taiwan), Republik Rakyat Cina terbentuk pada 1949.

Pemerintahan baru komunis akhirnya mengklaim sebagai perwakilan satu-satunya dari Cina yang mewarisi klaim maritim negeri tersebut. Namun, klaim yang sama juga dilontarkan pemerintahan Taiwan atas Laut China Selatan.

Pada 1950-an, dua garis putus-putus dihilangkan dari peta tersebut dan tinggal ada sembilan. Langkah itu diambil Perdana Menteri Cina Zhou Enlai untuk memberi tempat bagi Semenanjung Tonkin untuk rekan-rekan Cina di Vietnam Utara yang sedang berupaya melawan Vietnam Selatan yang baru merdeka dan menjadi andalan dari Blok Barat di Asia.

Pada 1974, gegara Sembilan Garis Putus-putus, Cina sempat baku tembak dengan Vietnam Selatan yang sempat menghardiknya di Kepulauan Paracel. Korban jiwa termasuk 53 tentara Vietnam Selatan termasuk Kapten Nguy Van Tha of Nhat Tao, dan dari pihak Cina hanya 18 orang pelaut.

Pos terkait


Deprecated: file_exists(): Passing null to parameter #1 ($filename) of type string is deprecated in /home/indr1778/public_html/bengkulu/wp-includes/comment-template.php on line 1616

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *