Pembina Asrama Taruna Papua Lecehkan 25 Siswa di Kamar Mandi

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Setidalnya 25 Siswa Sekolah Berpola Asrama Taruna Papua Timika baik anak-anak laki-laki dan perempuan menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual oleh pembina asramanya.

Kasat Reskrim Polres Mimika AKP Hermanto di Timika, mengatakan, Oknum pembina asrama putra Sekolah Taruna Papua Timika berinisial DF (30) kini sudah tangkap. Sejauh ini polisi sudah menerima laporan dari 25 siswa yang berusia antara 6 tahun dan 13 tahun.

Muat Lebih

“Korban yang baru melapor sebanyak 25 orang, sebanyak 24 siswa dan satu seorang siswi. Sebanyak 10 orang mengalami pencabulan dan 15 orang mengalami kekerasan,” katanya seperti dikutip Antara, Minggu (14/3/2021).

Kasus ini terungkap setelah kepala sekolah mendapati salah satu korban menangis di dalam kamar.

Modus yang digunakan pelaku, yaitu saat bertugas malam hari mengasuh siswa Sekolah Taruna Papua di asrama putra, DF mengajak satu per satu siswa ke kamar mandi pembina untuk dipaksa melakukan seks oral.

Untuk memuluskan akal bulusnya itu, DF menggunakan sepotong mistar kayu untuk mengancam siswa. Beberapa siswa yang menolak ajakan DF dipukul dengan seutas tali kabel listrik.

DF diketahui baru bertugas lebih dari 1 tahun sejak Januari 2020 sebagai pembina asrama putra Sekolah Taruna Papua. Aksi pencabulan itu diduga dilakukan DF dari November 2020 hingga 9 Maret 2021.

Polres Mimika akan berkoordinasi dengan ahli kejiwaan untuk melakukan pemeriksaan kondisi kejiwaan DF yang kini meringkuk dalam sel tahanan Polres Mimika.

Pihak kepolisian juga meminta siswa lainnya yang mungkin mengalami kejadian serupa untuk segera melapor.

Setelah ditetapkan tersangka, DF kini terancam pidana penjara maksimal 20 tahun atas dugaan melakukan kekerasan dan pelecehan seksual terhadap puluhan siswa sekolah itu.

Tersangka dijerat dengan Pasal 82 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukumannya antara 5 tahun dan 15 tahun dan ditambah dua per tiga dari hukuman tersebut sehingga bisa mencapai 20 tahun.

Sementara itu, para korban kejahatan DF kini mendapat pendampingan dari petugas Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Mimika untuk mengatasi trauma kejiwaan mereka. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *