Pilpres 2024: Anies Dan Ganjar Diprediksi Sulit Dapat Parpol Pengusung.

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Walau pelaksanaan Pemilu Presiden (Pilpres) mendatang masih cukup lama, namun banyak hasil survei yang dirilis oleh berbagai lembaga survei terus menghiasi halaman informasi publik. Beres satu lembaga survei merilis satu survei, langsung disusul lembaga lain merilis dengan formasi berbeda.

Bahkan kini muncul berbagai lembaga baru, yang sama sekali tidak ada rekam jejak sebelumnya, ikut merilis hasil survei dengan berbagai variasi, termasuk memotret bakal calon dari kalangan perempuan.

Muat Lebih

Mengolah berbagai hasil survei dari berbagai lembaga tersebut, dapat disimpulkan ada tiga nama yang selalu muncul bersaing elektabilitasnya yaitu Prabowo Subianto, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo. Ketiga tokoh ini seringkali elektabilitasnya berada di atas angka 10 persen.

Menanggapi hal tersebut, peneliti LSPI Rachmayanti Kusumaningtyas menyatakan dari ketiga nama tersebut hanya Prabowo yang punya daya tawar dari sisi tiket partai, sementara Anies dan Ganjar dinilai sulit mendapatkan tiket partai.

“Anies itu tidak punya partai. Apa yang bisa ditawarkan ke parpol selain popularitas dan elektabilitas. Namun kalau elektabilitas stabil di bawah 20 persen, tidak akan menarik buat parpol. Itu karena pilpres membutuhkan tidak hanya popularitas dan elektabilitas tapi juga dana operasional pemenangan dan kampanye,” ujarnya kepada Indopolitika.com, Sabtu (17/4/2021).

Rachmayanti juga menilai posisi Ganjar hanya mungkin ditawarkan ke PDIP. Dengan elektabilitaa yang rata-rata di bawah 20 persen, posisi tawarnya akan sulit.

“Suara rata-rata PDIP sendiri berada di kisaran 20 persen, artinya kalau ada tokoh di luar keluarga Megawati yang akan maju, daya tawarnya harus elektabilitas yang tinggi. Kalau elektabilitasnya sama atau malah di bawah suara partai, saya rasa PDIP akan lebih cocok mengusung Puan Maharani,” tambahnya.

Rachmayanti menyebut posisi tawar Puan Maharani untuk maju di pilpres 2024 cukup tinggi. Selain kemungkinan akan terpilih sebagai Ketum Partai, Puan juga sudah punya jejak yang baik di pemerintahan sebagai menko dan kini sebagai ketua DPR.

“Jadi beda memang kasus Jokowi dengan Ganjar. Jokowi naik dan melesat popularitasnya karena jadi gubernur DKI, sementara Ganjar ini gubernur Jawa Tengah, yang bukan pusat perhatian nasional,” ungkapnya.

Rachmayanti menyarankan, mumpung waktu pelaksanaan pilpres masih lama, sebaiknya figur-figur daerah yang mau maju ke level nasional, seperti Ganjar atau Ridwan Kamil, harus buka panggung di tingkat nasional. Sementara untuk Anies Baswedan, kalau serius mau maju di pilpres, harus masuk atau kuasai parpol.

“Kalau bermain di popularitas saja, sementara parpop tidak ada yang mau mengusung, ya selesai. Dan parpol hanya mau mengusung figur yang akan menang. Untuk menang pilpres dibutuhkan banyak dana dan jaringan kerja pemenangan di semua daerah. Jangan lupa, unsur primordial juga menjadi faktor pertimbangan seperti soal latar belakang suku bangsa dan dukungan ormas Islam seperti NU dan lain-lain,” pungkasnya. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *