Pilpres 2024: Pasangan Anies Baswedan – Gatot Nurmantyo Akan Beri Deterrent Effect

  • Whatsapp

 

INDOPOLITIKA.COM – Wacana pilpres 2024 makin ramai dibahas di berbagai media. Padahal Belanda masih jauh, pilpres baru akan berlangsung tiga tahun mendatang tetapi aromanya tercium semilir semerbak. Aroma pilpres ini memang banyak dihembuskan oleh lembaga-lembaga survei yang rajin merilis elektabilitas tokoh-tokoh yang diprediksi akan berkontesasi. Silih berganti, mereka mengumumkan rangking elektabilitas setiap bulannya tanpa ada yang tahu darimana mereka memiliki dana untuk survei di tengah situasi ekonomi yang sulit saat pandemik begini.

Muat Lebih

Diantara nama yang sering muncul dan cukup diperhitungkan elektabilitasnya adalah Anies Baswedan. Ia selalu diuji di semua survei lembaga-lembaga itu dan temuannya hampir selalu sama yakni posisi Anies elektabilitasnya berada di lima besar. Anies juga menjadi primadona bagi para mantan pendukung Prabowo-Sandi di pilpres 2019 lalu dan seolah menjadi pengobat rindu karena Prabowo dan Sandiaga dianggap mengkhianati suara mereka dengan masuk menjadi anggota kabinet Jokowi.

Nama lain yang juga ramai mencuat adalah Jenderal Gatot Nurmantyo. Tokoh ini selain dihormati sebagai jenderal yang gagah perkasa dan patriot, juga dipandang sebagai perwakilan kaum nasionalis dan negarawan. Gatot diyakini akan menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan apapun seperti telah teruji selama ini. Karenanya oleh sebagian bedar pendukung Anies, mantan panglima TNI itu dipandang pas berpasangan. Anies jadi capresnya, Gatot jadi cawapresnya.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Riset Lembaga Studi Pemilu & Politik (LSPP Jakarta), SV. Sutikno menyatakan jika Anies Baswedan dan Gatot Nurmantyo maju berpasangan pasti akan memberi deterrent effect atau daya getar kepada lawannya. Itu jika posisi Anies Baswedan sendiri benar-benar berhasil mengambil hati para mantan pemilih Prabowo – Sandi di pilpres 2019 lalu. Posisi Gatot Nurmantyo sendiri akan dipandang sebagai menggantikan posisi Prabowo yang sama-sama jenderal di TNI. “Masalahnya tinggal soal dukungan tadi. Apakah mampu Anies menarik para mantan pemilih Prabowo – Sandi secara tumplek blek menjadi pendukungnya. Teorinya memang bisa dibuat tapi prakteknya tidak gampang,” ujarnya saat berbincang dengan Indopolitika.com, Senin (19/4).

Sutikno menambahkan, seharusnya kalau Anies Baswedan fokus menggarap para mantan pemilih Prabowo – Sandi di pilpres 2019 lalu, angka elektabilitasnya akan terus meningkat. Bahkan bisa saja mendekati suara yang diperoleh Prabowo – Sandi, namun tampaknya upaya itu belum dilakukan atau tidak difokuskan sehingga elektabilitas Anies sekarang masih belum tinggi mencolok. “Saya kira kalau Pak Anies benar-benar mau maju di pilpres 2024 nanti, menggarap para mantan pemilih PS itu menjadi pilihan yang tak terhindarkan. Dan kalau fokus digarap serius, akan berdampak secara elektoral,” ujarnya.

Namun Sutikno menjelaskan, Anies dan juga Gatot punya masalah besar yakni soal partai pengusung. Tidak mudah bisa dapat tiket dari parpol apalagi syarat minimal adalah 20 persen. Itu artinya Anies – Gatot butuh minimal 3 parpol untuk mengusungnya. Untuk membuat satu poros ini saja, tidak mudah. Karena Gerindra mungkin sudah punya deal dengan parpol lain. Praktis publik hanya menduga Anies didukung PKS dan berharap dukungan yang sama dari Nasdem dan Demokrat. “Saya sendiri meyakini dua partai terakhir juga sudah punya kandidat. Dengan demikian maka Anies – Gatot harus bekerja keras meningkatkan elektabilitasnya sehingga nyata memberi daya getar (deterrent effect) ke parpol. Karena hukum mereka jelas satu, hanya mau mengusung yang akan menang,” pungkasnya. [dbm]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *