Prabowo Rogoh Kocek Rp 15,57 T untuk 11 Pesawat Tempur, Apa Keistimewaan Sukhoi Su-35?

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Sejak dua tahun silam, Indonesia telah menandatangani nota kesepakatan yang disodorkan Rusia terkait pembelian jet tempur Sukhoi SU-35 yang jumlahnya mencapai 11 unit. Namun sayang, ada beberapa hal yang membuat proses distribusinya terhambat. Mulai dari perkara imbal dagang, sampai ancaman yang dilayangkan Amerika Serikat.

Setelah lama menunggu kepastian perihal pembelian 11 unit Sukhoi Su-35 oleh Pemerintah Indonesia, Duta Besar Rusia untuk Indonesia Lyudmila Vorobieva menyebut kontrak pembelian itu sudah ditandatangani beberapa waktu lalu.

Muat Lebih

“Kami berharap itu akan segera diimplementasikan,” ujar Lyudmila di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Senin lalu (3/2/2020).

Namun, Ia tidak mengelaborasi apa yang menjadi penyebab belum diimplementasikannya kontrak pembelian itu. Yang pasti, menurut Lyudmila, Indonesia tidak akan rugi membeli 11 unit Sukhoi Su-35.

“Indonesia akan memiliki salah satu alat utama sistem persenjataan terbaik di dunia,” kata Lyudmila.

Indonesia melalui Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, sempat menyatakan minatnya memboyong jet tempur lain bernama Rafale Dassault. Akan tetapi, beberapa media luar menyebut pesawat buatan Perancis itu merupakan produk ‘gagal’ yang tak begitu laku di pasaran.

Prabowo pun kembali memalingkan perhatiannya ke Sukhoi SU-35. Kepastian itu diterima setelah Ketua Umum Partai Gerindra itu bertemu Menteri Pertahanan Rusia, Sergey Shoygu di Moskow, pekan lalu.

Kabarnya, salah satu poin penting dalam pembicaraan tersebut ialah rencana Prabowo membeli 11 unit jet tempur Sukhoi Su-35 senilai US$1,14 miliar atau setara Rp15,57 triliun. Setidaknya, hal itu yang disampaikan Duta Besar RI untuk Rusia, Wahid Supriyadi di hadapan para pewarta dari berbagai media.

“Ya tadi disinggung juga (soal pembelian Sukhoi), itu tinggal tunggu proses saja,” ujarnya.

Pertemuan Shoygu dengan Prabowo tersebut bermakna penting karena berlangsung jelang 70 tahun hubungan diplomasi antara Rusia dan Indonesia. Tidak hanya itu, Shoygu menyebut Kemenhan Rusia siap berpartisipasi dalam peringatan HUT RI ke-75 yang jatuh pada 17 Agustus 2020 mendatang.

Sebagai informasi, SU-35 sebenarnya merupakan jet tempur yang berstatus sebagai produk generasi keempat. Artinya, pesawat itu masih berada di tingkatan yang sama dengan F-14 Tomcat buatan Amerika Serikat yang tergolong cukup tua. Akan tetapi, Rusia mengaku, ada beberapa penyempurnaan teknologi yang membuat SU-35 tampil bagaikan generasi kelima.

Dilansir dari Majalah Indonesian Defence Review, Sukhoi SU-35 dengan kode NATO: Flanker-E merupakan pesawat tempur multiperan, kelas berat. Ia juga merupakan jenis pesawat tempur yang memiliki tingkat jelajah panjang, dan bertempat duduk tunggal.

Pesawat asal Rusia ini dikembangkan dari SU-27, yang semula memiliki nama SU-27M. Pesawat ini dikembangkan untuk menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon. Karena kesamaan fitur dan komponen yang dikandungnya, Su-35 dianggap sebagai sepupu dekat Sukhoi Su-30MKI, sebuah varian Su-30 yang diproduksi untuk India.

Pesawat ini sendiri merupakan seri flanker terakhir dan merupakan pengisi kekosongan generasi antara generasi 4 dan generasi 5, bisa dimasukkan dalam generasi 4++.

Pesawat Su-35 perdana kemudian dikembangkan lagi menjadi Su-35 BM, yang memasuki deretan produksi sebagai Su-35S. Angkatan Udara Rusia saat ini mengoperasikan 12 pesawat tempur Su-35 sejak tahun 2008.

Sementara itu, Pemerhati Alutsista Haryo Adjie Nogo Seno, mengatakan Sukhoi SU-35 memiliki beberapa plus minus. Pesawat itu memiliki daya angkut senjata (tonase dan jumlah) yang tergolong tinggi dengan 12 hard point. Sedangkan untuk mesin memiliki usia pakai yang lebih panjang.

Pesawat itu juga bisa membawa bekal senjata dari tipe sebelumnya. Sukhoi juga diklaim paling rendah kerawanan terhadap embargo. Pesawat ini juga mampu beroperasi dari landasan pendek berkat mesin yang dilengkapi TVC (thrust vectoring control), bahkan konfigurasi rodanya menjadikan Su-35 dapat dioperasikan dari landasan yang agak kasar.

Untuk minusnya, Haryo Adjie menambahkan, Sukhoi hanya tersedia dalam varian kursi tunggal. Alhasil proses latih tempur atau konversi hanya bisa dilakukan di simulator. Sebagaimana dijelaskan defence.pk, mengulas bahwa biaya operasional per jam (cost of flying per hours) Su-27/Su-30 mencapai US$7.000.

Sementara untuk Su-35 biaya operasi per jam bisa mencapai US$14.000. Sebagai perbandingan biaya operasional per jam F-16 hanya US$3.600. [rif]

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *