Soal Distribusi Pangan Saat Pandemi, Ini yang Perlu Dilakukan Agar Gizi Masyarakat Seimbang

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Salah satu kebutuhan paling mendasar saat pemberlakuan Pembatasan Sosial Beskala Besar (PSBB) di berbagai daerah adalah distribusi makanan. Masyarakat mulai mengurangi pergi ke pasar untuk menghindar kemungkinan akan tertularnya virus Covid-19. Akibatnya aktivitas sentra perekonomian seperti pasar tradisional terganggu.

Menurut ahli pangan, Wildan S Niam, situasi ini bisa menimbulkan pergeseran pola konsumsi. Menurutnya, konsumsi sayur dan makanan yang mengandung protein berkurang di masyarakat. Orang lebih banyak mengonsumsi karbohidrat seperti beras, karena beras lebih tahan lama dan mudah disimpan sebagai stok.

Muat Lebih

“Tantangan pemerintah jelas bukan hanya tentang ketersediaan beras saja. Persoalan menjadi penting jika dikaitkan dengan kecukupan gizi masyarakat selama masa pembatasan sosial, terutama yang menjamin kecukupan gizi bagi anak.” ujar Wildan dalam keterangan tertulis yang diterima Indopolitika, Sabtu (25/4/2020).

Oleh karena itu, tambah Wildan, kesiapan pemerintah menghadapi pandemi tidak dapat diukur menurut satu dimensi beras saja.

“Diperlukan kerja sama banyak pihak untuk mengurangi potensi gangguan kesehatan terutama anak-anak, dengan menyediakan makanan bergizi yang beragam.” katanya.

Masalah utama tanaman pangan hortikultura (sayur-mayur) dan pangan protein (seperti daging sapi, ayam) adalah naturnya yang berumur pendek. Karakteristiknya yang mudah rusak juga meniscayakan bahan pangan ini untuk segera mungkin didistribusikan. Di sisi lain, penerapan PSBB menambah kesulitan baru dalam proses logistik.

“Masalah pangan bisa timbul karena distribusi. Jika distribusi tidak dipetakan dengan tegas, bisa mengakibatkan antara dua hal, pertama, gagal distribusi yakni ketika terjadi penumpukan komoditas pangan di daerah produksi, atau kedua, gagal konsumsi yakni bahan pangan diterima masyarakat dalam kondisi tidak layak.” terangnya.

Wildan melanjutkan, demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, perlu ada langkah penyelamatan hasil produksi masyarakat tani. Jangan sampai ketika mereka panen produknya tidak tersalur. Jangan pula terjadi yang kedua, produknya tersalur tapi kualitasnya tidak terjaga.

Langkah yang paling utama adalah peningkatan kapasitas produksi pabrik-pabrik pengolahan pangan, baik BUMN/BUMD maupun swasta. Dengan meningkatnya kapasitas produksi, pabrik-pabrik pengolahan pangan diharapkan dapat mengatur ulang sistem produksinya menjadi lebih baik. Sehingga mampu menunjang rantai distribusi di tengah pandemi COVID-19.

“Rantai distribusi perlu ditunjang sejak proses produksinya. Pertama pastikan penyerapan hasil produksi optimal lebih dahulu, lalu berturut-turut tampung, olah, kemas, dan simpan bahan pangan dengan kaidah yang benar. Jika itu dilakukan, bahan pangan diharapkan tiba di tangan masyarakat dalam kondisi baik dan layak konsumsi.” pungkasnya. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *