Xinjiang, Wilayah Kaya akan Migas bikin Cina makin ‘Beringas’

  • Whatsapp

INDOPOLITIKA.COM – Xinjiang Selatan (Tarim Basin) disebut menjadi tempat cadangan minyak dan gas terbesar Republik Rakyat Cina.

Tempat Muslim Uighur sejak dulu menetap di bawah sistem pemerintahan tradisional yang disebut Khanate atau Khaganate itu luasnya setara dengan tiga pulau Sumatra, atau sama dengan Pakistan dan Afghanistan digabung jadi satu. Sejak dulu, Xinjiang merupakan wilayah penting yang diperebutkan.

Muat Lebih

Xinjiang dulunya merupakan urat nadi perdagangan dunia, karena berada di Jalur Sutra. Penduduk asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uighur dan suku Kazakh.

Dengan luas 1,6 juta kilometer persegi, Xinjiang setara dengan 17 persen wilayah Cina, dan merupakan wilayah otonomi terbesar di Cina. Namun, hanya lima persen (80 ribu kilometer persegi) wilayahnya yang bisa ditinggali. Meski demikian, wilayah yang hanya lima persen ini setara dengan 100 kali luas Jakarta.

Sebagian besar wilayah Xinjiang adalah gurun pasir, padang rumput, danau, hutan, dan perbukitan. Xinjiang berada di kaki Gunung Tianshan yang membelah Asia Tengah. Xinjiang berbatasan dengan delapan negara, yaitu Mongolia, Rusia, Kazakhstan, Kyrgyzstan, Tajikistan, Afghanistan, Pakistan, dan India.

Tanah-tanah tak bertuan ini justru menyimpan kekayaan alam yang sangat besar di perut buminya, Untuk itulah, Cina mati-matian mempertahankan cengkeramannya di tengah pemberitaan negatif atas operasi mereka di wilayah otonom itu.

Mengutip China.org, Xinjiang menyumbang 38% cadangan batu bara nasional, sedangkan minyak-gas menyumbang lebih dari seperempat total cadangan nasional. China.org merupakan situs informasi yang beroperasi di bawah Kantor Dewan Informasi Negara dan Grup Penerbit Internasional China (CPIG) di Beijing.

Pemerintah Cina sendiri mengestimasikan cadangan minyak di Xinjiang mencapai 21 miliar ton, setara dengan seperlima total cadangan nasional Negeri Panda. Produksi minyak pada tahun depan diperkirakan mencapai 35 juta metrik ton setahun.

Di luar itu, ada temuan sebanyak 122 mineral yang beberapa di antaranya menjadi penyumbang terbesar cadangan nasional, di antaranya beryllium yang merupakan bahan baku katoda untuk alat-alat elektronik, muscovite yang menjadi bahan baku kosmetik, dan mineral tahan api asbetos.

Demikian juga temuan cadangan bijih besi 730 juta ton, cadangan garam 318 juta ton, kristal mirabilite 170 juta ton and potassium nitrat sebanyak 2 juta ton. Potassium nitrat secara tradisional merupakan bahan baku peledak, dan kini digunakan sebagai bahan bakar roket.

Mayoritas mineral tersebut merupakan bahan baku penting untuk membangun industri elektronik dan juga pertahanan di masa mendatang. Tidak heran, pemerintah Cina sejak tahun 1970 menggenjot eksploitasi sumber daya alam di Xinjiang.

Mengutip The New York Times, sebanyak 53 BUMN Cina mulai dari energi, konstruksi, hingga teknologi telah menginvestasikan sebanyak US$300 miliar di 685 proyek di Xinjiang pada tahun 2014.

Saaat ini Xinjiang memiliki lebih dari 1,8 juta pelaku usaha, termasuk 359.000 korporasi. Angka ini terhitung naik 18% secara tahunan.

Dari kawasan ini, Cina mengekspor berbagai produk mulai bahan mentah, batu mulia, hingga laptop ke berbagai negara di antaranya Kyrgistan, Australia, Pakistan, Inggris, Argentina, dan Vietnam.

Oleh karena itu, tidak heran jika kita melihat konflik mengemuka menyusul ekspansi besar-besaran Beijing di kawasan tersebut sejak tahun 1980-an, dengan membawa tenaga ahli dan pekerja yang berpengalaman di sektor manufaktur dari Cina daratan, yang umumnya adalah etnis Han.

Ini menjadikan penduduk minoritas yang mayoritas berbahasa Turki merasa terpinggirkan di wilayahnya sendiri karena mereka secara natural tidak mampu bersaing di pasar tenaga kerja berbasis investasi dari Cina, yang memerlukan kemampuan berbahasa mandarin.

Xinjiang tidak termasuk yang dikelilingi oleh Tembok Besar yang dibangun dinasti demi dinasti di Cina selama dua ribu tahun. Karena itu, orang-orang Uighur pun menjadikan fakta ini sebagai argumen bahwa tanah mereka bukanlah bagian dari Cina, apalagi mereka pun bukan orang Cina. [rif]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *